“Islam
tidak melarang cinta, perasaan itu memang dicipta untuk kita. Tapi cara
bagaimana dan mencintai siapa itu yang mengubah asal hukumya”
Riuk riang keramaian
kampus ini sangat membosankan. Ya membosankan karena begitu banyak drama yang
sengaja dibuat oleh setiap orang. Ini adalah waktu pertamaku berada di kampus.
Namun sungguh ini sangat membosankan beda dengan apa yang kuidam-idamkan saat masih
duduk di bangku sekolah. Dengan bersandar di tiang-tiang penyangga bangunan ini
aku berharap agar dapat pulang dengan cepat.
Di
keramaian ini tidak sengaja mataku berpapasan dengan mata yang memecah
kebosanan ini. Jika tidak salah dia pun melontarkan senyumnya padaku. Sialnya
aku tidak sempat mengingat wajah itu, aku hanya ingat dengan binaran oleh mata
indah itu. Sangat cepat ya ini sangat cepat seketika dia sudah melewatiku,
dengan sergap aku membalikkan badan untuk mengetahui siapakah gerangan sosok
yang dapat membawaku keluar dari kebosanan tadi. Sial sangat sial aku tak
berkesempatan melihat wajahnya, aku hanya ingat oleh postur tubuh bagian
belakangnya.
Pukul 7:30 tertera di jam
tangan ini kelas pun nampaknya akan dimulai, ini hanya pertemuan perdana jadi
kami hanya akan diperkenalkan oleh dosen-dosen. Di kelas pun aku masih
memikirkan siapa dan siapa tadi. Aku sangat penasaran dengan pemilik mata itu,
bersyukur kami berada di kampus yang sama. Jadi aku pasti dapat bertemu lagi
dengannya.
Waktu pulang pun tiba,
aku tidak ingin bergegas pulang. Aku menunggu seseorang itu tepatnya aku
menunggu di tiang tempatku bersandar pagi tadi. Dengan seksama kuperhatikan
dengan jeli setiap lelaki yang berlalu lalang di depanku. Namun tidak ada yang
memiliki tubuh bagian belakang seperti sosok tadi. “Nisa ayo pulang” ucap Mei,
ah sungguh menjengkelkan Mei sangat menggangguku. “oh Mei iya ayo kita pulang”
jawabku agak kesal.
Di sepanjang perjalanan
pulang Mei bercerita tentang kelas perdananya, aku mendengarkan saja sambil
sesekali menimpali ceritanya. “Kamu tadi nunggu siapa Nis?” tanya Mei. “Tidak
aku tidak menunggu siapapun, aku hanya mengamati kampus baru saja hahaha”
jawabku sambil tertawa.
“Eh sekalian sholat yuk”
ajak Mei sambil menunjuk masjid kampus, “ah ngga ah ntar aja di kos” jawabku
malas. “Issh ngga asiknya Nisa” jawab Mei jengkel.
Sesampainya di kos
kubersihkan diri dan lanjut untuk bersholat. Setelah itu aku bergegas untuk
makan. Dan setelah makan aku berbaring di atas kasur. Tiba-tiba saja terlintas
di pikirku bahwa hidupku ini sangat monoton. Aku ingin keluar dari zona ini,
tapi bagaimana caranya?
Ah aku malas memikirkan
caranya sudah jalani saja hidup seperti ini. Layaknya air saja lah yang
mengikuti kemana arah jalannya, toh ini sudah takdir yang diberi Allah SWT. Ya
memang setiap hari di kos hanya bermain hp, nonton tv, dan makan. Toh juga
nanti pasti akan sibuk sendiri dengan adanya tugas kuliah pikirku.
Dan adzan shubuh sudah terdengar
lagi saatnya kembali ke dunia yang monoton. Sesampainya di kampus aku mengikuti
perkuliahan dengan baik. Sudah masuk waktu untuk sholat Mei pun mengajak ku
untuk bersholat di masjid. Ah aku malas untuk pulang sebentar lagi juga akan ada
kelas jadi dengan terpaksa sholat saja di masjid.
“Mei habis sholat kita
beli makan yuk aku laper” pintaku pada Mei, “Iya Nis aku juga laper, kita makan
bakso aja yuk ntar” jawab Mei. Aku menganggukan kepala saja. Setelah selsainya
dari bersholat kami bergegas menuju warung bakso. Namun saat duduk memakai
sepatu, aku menemukan sosok yang memiliki binar mata yang indah kala itu. Aku
melihat dengan jelas wajahnya, dia bergurau bersama teman-temanya di depan
tempat berwudhu lelaki.
Dialah pemilik mata indah
yang kucari dari kemarin. Parasnya pun tampan jua dengan kumis tipis yang
menghiasinya dan mahkota cepaknya itu, ah tampannya. Sembari bejalan aku terus
memikirkannya siapakah gerangan namanya?
“Lek bakso dua ya” pesan
Mei, “Nis kamu kenapa sih dari tadi senyum ngga jelas gitu?” Tanya Mei heran
“Ha apasih nggak papa kok” jawabku. Pesanan kami pun datang, “Loh Nis kamu kan
ngga suka kecap” Tanya Mei, “Aduh aku ngga sengaja ngasihnya, duh ngga fokus
aku” jawabku sambil menghentikan lelehan kecap. “Yaudah nih untung punyaku
belum ku kasih” jawab Nisa. “Kamu kenapa sih Nis dari tadi tau lah, badan mu
disini tapi pikiranmu dimana?” Tanya Mei “Apasih Mei ayo sudah makan” jawabku
santai
Setelah makan kami pun
kembali ke kelas. Sambil menunggu dosen ku baca buku-buku mata kuliah hari ini.
Ada segerombol kaka tingkat yang memasuki kelas. Ternyata mereka dari sebuah
organisasi Islam yang ada di kampus, mereka ingin memberitahu bahwa telah
diadakan oprec anggota. Aku tidak memperhatikan dengan seksama apa-apa saja
yang mereka sampaikan.
Tiba-tiba datanglah
seorang yang membuatku terkejut. Ya dia adalah lelaki itu, dia memperkenalkan
dirinya dan tersenyum kearahku. Mungkin karena dia heran melihatku begitu
menganga memperhatikannya. Aku berniat besar untuk mengikuti organisasi tersebut.
Alasan terbesarku adalah ingin mengenal lebih dekat siapa dia.
Hari dimana pertemuan
perdana organisasi ini aku sangat bersemangat. Mei sangat bingung
kenapa bisa aku bergabung dengan organisasi ini. Aku hanyak mengatakan jika aku
ingin memperdalam agama saja. Dan Mei percaya dengan apa yang kukatakan. Aku
mengira akan memandang dia dengan puas. Mata kami dapat bertemu lagi, mendapat
senyum darinya. Ternyata diluar dugaanku dia tidak muncul di pertemuan itu. Ya
sangat sial setiap ada agenda dengan organisasi ini dia tak pernah muncul.
Sampai-sampai aku lupa apa niat awalku untuk mengikuti organisasi ini karena
lebih asik melakukan hal-hal di keorganisasian ini.
Aku merasa lebih disiplin
terhadap waktu, pengetahuan tentang ibadah juga semakin banyak, dan aku merasa
hidupku tidak monoton lagi. Juga aku mengetahui tidak boleh kita terlalu
mendamba pada lawan jenis apalagi berharap menjadi pacarnya. “Sebaik-baiknya
cinta adalah cinta yang namanya ada dalam setiap bait doa mu” itu salah satu
tausiyah yg sangat ku ingat.
Hingga suatu hari Mei
menemukan sebuah surat yang dulunya ingin kuberikan kepada lelaki itu. Surat yg
berisi “Wahai akhi aku tau aku tak pantas bila bersanding dengamu, namun aku
berusaha dalam ketidakpantasan ini bisa bersanding denganmu. Terimakasih kala
itu kau sempatkan untuk menatapku. Kau yang memecah bosanku hingga membuatku
sangat ingin tahu sosokmu. Kau tau aku sangat mendambamu banyak cara kulakukan
agar bisa berada dekat dengamu. Jika kau berpikir aku sangat ceroboh mengatakan
ini, tak ada masalah bagiku sebab dulu pun Khadijah melamar baginda Nabi
Muhammad terlebih dulu.”
Mei menemukan surat itu
di tumpukan buku yang ada di rak kamarku. Diapun bergegas mengintrogasiku.
“Nisa kamu yg menulis ini?” Tanya Mei agak marah “Kamu kok bisa dapet itu sih?”
tanyaku heran. “Nis kalo emang kamu mau ikut organisasi ini cuma buat yg kaya
gini, mending sekarang kamu keluar deh. Kamu cuma buat jelek diri kamu kalo
niatmu ngga baik Nis!” sahut Mei “Ngga Mei ngga iya memang dulu niatku buat
ikut ini cuma buat dia, tapi sekarang enggak aku udah tau kalo yang aku lakuin
dulu itu salah ngga seharusnya aku ngelakuin ini. Tapi sekarang aku beda Mei
aku akuin aku masih kagum sama dia tapi sekarang aku tahu kalo perasaan ku ini
ngga boleh terus ada. Aku sudah buat coba ngehilanginnya Mei. Percaya sama aku”
jelasku.
Mei pun mempercayaiku, ya
memang aku sudah berusaha melupakannya. Karena sering mengikuti
tausiyah-tausiyah aku jadi tahu cara ini salah kulakukan untuk mecintainya. Aku
akan memelukmu dalam setiap doa yg ku lantunkan kepada Allah SWT.
Menyesal pernah memiliki
perasaan itu? Tidak aku justru berterimakasih karena dengan itu aku bisa
bergabung dengan organisasi ini dan membuatku lebih mengerti dengan agama ini.
Aku sangat berterimakasih padamu wahai lelaki yang kuharap dapat menjadi imam
ku kelak, karena telah membawaku ke jalan yg lebih baik seperti sekarang.
“Aku
ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kisah cinta Ali dan Fatimah. Yang
diam-diam saling mendamba hingga akhirnya Allah mempersatukannya jua”