Sabtu, 18 November 2017

Etiolasi (Cerpen)




“Islam tidak melarang cinta, perasaan itu memang dicipta untuk kita. Tapi cara bagaimana dan mencintai siapa itu yang mengubah asal hukumya”
Riuk riang keramaian kampus ini sangat membosankan. Ya membosankan karena begitu banyak drama yang sengaja dibuat oleh setiap orang. Ini adalah waktu pertamaku berada di kampus. Namun sungguh ini sangat membosankan beda dengan apa yang kuidam-idamkan saat masih duduk di bangku sekolah. Dengan bersandar di tiang-tiang penyangga bangunan ini aku berharap agar dapat pulang dengan cepat.
            Di keramaian ini tidak sengaja mataku berpapasan dengan mata yang memecah kebosanan ini. Jika tidak salah dia pun melontarkan senyumnya padaku. Sialnya aku tidak sempat mengingat wajah itu, aku hanya ingat dengan binaran oleh mata indah itu. Sangat cepat ya ini sangat cepat seketika dia sudah melewatiku, dengan sergap aku membalikkan badan untuk mengetahui siapakah gerangan sosok yang dapat membawaku keluar dari kebosanan tadi. Sial sangat sial aku tak berkesempatan melihat wajahnya, aku hanya ingat oleh postur tubuh bagian belakangnya.
Pukul 7:30 tertera di jam tangan ini kelas pun nampaknya akan dimulai, ini hanya pertemuan perdana jadi kami hanya akan diperkenalkan oleh dosen-dosen. Di kelas pun aku masih memikirkan siapa dan siapa tadi. Aku sangat penasaran dengan pemilik mata itu, bersyukur kami berada di kampus yang sama. Jadi aku pasti dapat bertemu lagi dengannya.
Waktu pulang pun tiba, aku tidak ingin bergegas pulang. Aku menunggu seseorang itu tepatnya aku menunggu di tiang tempatku bersandar pagi tadi. Dengan seksama kuperhatikan dengan jeli setiap lelaki yang berlalu lalang di depanku. Namun tidak ada yang memiliki tubuh bagian belakang seperti sosok tadi. “Nisa ayo pulang” ucap Mei, ah sungguh menjengkelkan Mei sangat menggangguku. “oh Mei iya ayo kita pulang” jawabku agak kesal.
Di sepanjang perjalanan pulang Mei bercerita tentang kelas perdananya, aku mendengarkan saja sambil sesekali menimpali ceritanya. “Kamu tadi nunggu siapa Nis?” tanya Mei. “Tidak aku tidak menunggu siapapun, aku hanya mengamati kampus baru saja hahaha” jawabku sambil tertawa.
“Eh sekalian sholat yuk” ajak Mei sambil menunjuk masjid kampus, “ah ngga ah ntar aja di kos” jawabku malas. “Issh ngga asiknya Nisa” jawab Mei jengkel.
Sesampainya di kos kubersihkan diri dan lanjut untuk bersholat. Setelah itu aku bergegas untuk makan. Dan setelah makan aku berbaring di atas kasur. Tiba-tiba saja terlintas di pikirku bahwa hidupku ini sangat monoton. Aku ingin keluar dari zona ini, tapi bagaimana caranya?
Ah aku malas memikirkan caranya sudah jalani saja hidup seperti ini. Layaknya air saja lah yang mengikuti kemana arah jalannya, toh ini sudah takdir yang diberi Allah SWT. Ya memang setiap hari di kos hanya bermain hp, nonton tv, dan makan. Toh juga nanti pasti akan sibuk sendiri dengan adanya tugas kuliah pikirku.
Dan adzan shubuh sudah terdengar lagi saatnya kembali ke dunia yang monoton. Sesampainya di kampus aku mengikuti perkuliahan dengan baik. Sudah masuk waktu untuk sholat Mei pun mengajak ku untuk bersholat di masjid. Ah aku malas untuk pulang sebentar lagi juga akan ada kelas jadi dengan terpaksa sholat saja di masjid.
“Mei habis sholat kita beli makan yuk aku laper” pintaku pada Mei, “Iya Nis aku juga laper, kita makan bakso aja yuk ntar” jawab Mei. Aku menganggukan kepala saja. Setelah selsainya dari bersholat kami bergegas menuju warung bakso. Namun saat duduk memakai sepatu, aku menemukan sosok yang memiliki binar mata yang indah kala itu. Aku melihat dengan jelas wajahnya, dia bergurau bersama teman-temanya di depan tempat berwudhu lelaki.
Dialah pemilik mata indah yang kucari dari kemarin. Parasnya pun tampan jua dengan kumis tipis yang menghiasinya dan mahkota cepaknya itu, ah tampannya. Sembari bejalan aku terus memikirkannya siapakah gerangan namanya?
“Lek bakso dua ya” pesan Mei, “Nis kamu kenapa sih dari tadi senyum ngga jelas gitu?” Tanya Mei heran “Ha apasih nggak papa kok” jawabku. Pesanan kami pun datang, “Loh Nis kamu kan ngga suka kecap” Tanya Mei, “Aduh aku ngga sengaja ngasihnya, duh ngga fokus aku” jawabku sambil menghentikan lelehan kecap. “Yaudah nih untung punyaku belum ku kasih” jawab Nisa. “Kamu kenapa sih Nis dari tadi tau lah, badan mu disini tapi pikiranmu dimana?” Tanya Mei “Apasih Mei ayo sudah makan” jawabku santai
Setelah makan kami pun kembali ke kelas. Sambil menunggu dosen ku baca buku-buku mata kuliah hari ini. Ada segerombol kaka tingkat yang memasuki kelas. Ternyata mereka dari sebuah organisasi Islam yang ada di kampus, mereka ingin memberitahu bahwa telah diadakan oprec anggota. Aku tidak memperhatikan dengan seksama apa-apa saja yang mereka sampaikan.
Tiba-tiba datanglah seorang yang membuatku terkejut. Ya dia adalah lelaki itu, dia memperkenalkan dirinya dan tersenyum kearahku. Mungkin karena dia heran melihatku begitu menganga memperhatikannya. Aku berniat besar untuk mengikuti organisasi tersebut. Alasan terbesarku adalah ingin mengenal lebih dekat siapa dia.
Hari dimana pertemuan perdana organisasi ini aku sangat bersemangat. Mei sangat bingung kenapa bisa aku bergabung dengan organisasi ini. Aku hanyak mengatakan jika aku ingin memperdalam agama saja. Dan Mei percaya dengan apa yang kukatakan. Aku mengira akan memandang dia dengan puas. Mata kami dapat bertemu lagi, mendapat senyum darinya. Ternyata diluar dugaanku dia tidak muncul di pertemuan itu. Ya sangat sial setiap ada agenda dengan organisasi ini dia tak pernah muncul. Sampai-sampai aku lupa apa niat awalku untuk mengikuti organisasi ini karena lebih asik melakukan hal-hal di keorganisasian ini.
Aku merasa lebih disiplin terhadap waktu, pengetahuan tentang ibadah juga semakin banyak, dan aku merasa hidupku tidak monoton lagi. Juga aku mengetahui tidak boleh kita terlalu mendamba pada lawan jenis apalagi berharap menjadi pacarnya. “Sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang namanya ada dalam setiap bait doa mu” itu salah satu tausiyah yg sangat ku ingat.
Hingga suatu hari Mei menemukan sebuah surat yang dulunya ingin kuberikan kepada lelaki itu. Surat yg berisi “Wahai akhi aku tau aku tak pantas bila bersanding dengamu, namun aku berusaha dalam ketidakpantasan ini bisa bersanding denganmu. Terimakasih kala itu kau sempatkan untuk menatapku. Kau yang memecah bosanku hingga membuatku sangat ingin tahu sosokmu. Kau tau aku sangat mendambamu banyak cara kulakukan agar bisa berada dekat dengamu. Jika kau berpikir aku sangat ceroboh mengatakan ini, tak ada masalah bagiku sebab dulu pun Khadijah melamar baginda Nabi Muhammad terlebih dulu.”
Mei menemukan surat itu di tumpukan buku yang ada di rak kamarku. Diapun bergegas mengintrogasiku. “Nisa kamu yg menulis ini?” Tanya Mei agak marah “Kamu kok bisa dapet itu sih?” tanyaku heran. “Nis kalo emang kamu mau ikut organisasi ini cuma buat yg kaya gini, mending sekarang kamu keluar deh. Kamu cuma buat jelek diri kamu kalo niatmu ngga baik Nis!” sahut Mei “Ngga Mei ngga iya memang dulu niatku buat ikut ini cuma buat dia, tapi sekarang enggak aku udah tau kalo yang aku lakuin dulu itu salah ngga seharusnya aku ngelakuin ini. Tapi sekarang aku beda Mei aku akuin aku masih kagum sama dia tapi sekarang aku tahu kalo perasaan ku ini ngga boleh terus ada. Aku sudah buat coba ngehilanginnya Mei. Percaya sama aku” jelasku.
Mei pun mempercayaiku, ya memang aku sudah berusaha melupakannya. Karena sering mengikuti tausiyah-tausiyah aku jadi tahu cara ini salah kulakukan untuk mecintainya. Aku akan memelukmu dalam setiap doa yg ku lantunkan kepada Allah SWT.
Menyesal pernah memiliki perasaan itu? Tidak aku justru berterimakasih karena dengan itu aku bisa bergabung dengan organisasi ini dan membuatku lebih mengerti dengan agama ini. Aku sangat berterimakasih padamu wahai lelaki yang kuharap dapat menjadi imam ku kelak, karena telah membawaku ke jalan yg lebih baik seperti sekarang.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kisah cinta Ali dan Fatimah. Yang diam-diam saling mendamba hingga akhirnya Allah mempersatukannya jua”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar