Sabtu, 09 Desember 2017

Artikel Mahasiswa ITK: PENGARUH KEBUTUHAN TIDUR BAGI MAHASISWA



PENGARUH PENTINGNYA KEBUTUHAN TIDUR BAGI MAHASISWA

Aditya Dwi Septyanur (01171003)
Fisika, Institut Teknologi Kalimantan
Ringkasan
Tidur merupakan kebutuhan pokok yang semestinya dilakukan oleh manusia untuk pengembalian metabolisme tubuh yang rusak. Dengan kata lain tidur adalah sebuah aktivitas beristirahat yang mewakili dalam kehidupan, untuk sekedar dapat mengistirahatkan tubuh menuju keadaan alami untuk beristirahat secara fisik dan mental. Kebtuhan tidur normal manusia adalah 6-8 jam sehari, namun biasanya tak sedikit dari individu kekurangan waktu tidur. Bisa saja disebabkan oleh tuntutan pekerjaan atau tugas yang menumpuk. Hal seperti ini biasanya terjadi pada mahasiswa, mereka akan merasa kekurangan tidur dikarenakan tugas yang menumpuk. Permasalahan ini dapat terjadi karena melalaikan tugas dan bermalas-malasan. Padahal hal seperti ini kembali pada individunya sendiri bagaimana mereka mensiasati untuk kebutuhan tidurnya. Dapat juga untuk lebih mengatur waktu yang akan dibutuhkan dalam kebutuhan tidur dan proses akademik maupun non akademik.
Pendahuluan
Dalam menjalani kehidupan setiap orang tidak akan beraktivitas  terus menerus tanpa ada hentinya. Ada sebuah kegiatan yang mewakili dalam kehidupan, untuk sekedar dapat mengistirahatkan tubuh. Tidur adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengembalikan keadaan tubuh manusia menuju keadaan alami untuk beristirahat secara fisik dan mental. Dalam kebutuhannya manusia sendiri membutuhkan sekurangnya 6-8 jam untuk tidur, agar dapat mengembalikan metabolisme sel tubuh yang rusak.
Kebutuhan tidur biasanya banyak tidak terpenuhi secara maksimal oleh beberapa orang, hal seperti ini bisa  saja disebabkan karena tuntutan pekerjaan, keinginan, dan juga karena kebiasaan. Contoh dalam kehidupan ini adalah seorang mahasiswa, mahasiswa sendiri mempunyai waktu tidur yang kurang dikarenakan tuntutan tugas. Dalam dunia perkuliahan pun, keaktifan dalam akademik maupun non akademik sangat menentukan pemehaman dari perkuliahan maupun persoalan tentang konsep kehidupan perkuliahan. Pamahaman disini dapat diperlukan konsentrasi yang baik, serta dengan kemampuan yang baik pula. Cara memupuk konsentrasi ini pun beragam caranya, dengan menjaga kesehatan, mengatur pola hidup sehat, dan istirahat yang cukup.
Pembahasan                                                                                                                
Tidur adalah suatu fenomena biologis yang terkait dengan irama alam semesta, irama sirkadian yang bersiklus 24 jam, terbit dan terbenamnya matahari, waktu malam dan siang hari, tidur merupakan kebutuhan manusia yang teratur dan berulang untuk menghilangkan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Kebutuhan tidur pada umumnya sudah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan wajib, yang harus di jalani oleh manusia. Bahkan bisa di katakana tidak hanya manusia mahkluk hidup yang membutuhkan tidur. Kebutuhan tidur ini tak semata-mata hanya dijadikan suplemen untuk mengistirahatkan tubuh yang bekerja seharian, melainkan manfaat tidur yang baik adalah dapat mengoptimalkan pikiran yang rancau atau yang paling penting, untuk mengoptimalkan metabolisme tubuh yang rusak. Tidur yang pas menyehatkan karena waktu yang diatur kapan kita tidur dan kapan kita bangun itulah hal yang baik dan perlu dilaksanakan.
            Jika dipandang dari segi kebutuhannya, manusia sendiri membutuhkan paling sedikit 6-8 jam sehari untuk tidur. Paruh waktu normal ini pun biasanya menjadi permasalahan yang mendasar bagaimana manusia dapat memenuhi kebutuhan tidur ini. Permasalahan seperti ini yang menjadi pokok permasalahan dalam menyelesaikan suatu tuntutan atau tugas. Setiap orang pada dasarnya pernah mengalami insomnia, sebuah survey yang dilakukan oleh National Institut of Health di Amerika menyebutkan bahwa pada tahun 1970 menunjukkan bahwa total penduduk  yang mengalami insomnia 17% dari populasi, presentase penderita insomnia lebih tinggi dialami oleh orang yang lebih tua, 1 dari 4 pada usia 60 tahun mengalami sulit tidur yang serius. Biasanya setiap orang mempunyai tuntutan tugas yang perlu membutuhkan banyak waktu dalam menyelesaikan tugasnya. Berlarut-larut dalam menyelesaikan tugas tersebut yang membuat seseorang akan menyita waktu tidurnya.
            Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah terlihat jelas pada diri seorang mahasiswa. Pentingnya kebutuhan tidur yang cukup baik dengan pola yang struktur, dapat membuat seorang mahasiswa mampu bersaing dalam dunia perkuliahannya. Namun yang disayangkan adalah seorang mahasiswa, sulit untuk mengatur kebutuhan tidur untuk dirinya sendiri. Dengan berbagai argumen yang menyatakan bahwa diri meraka merasa tidak memiliki waktu tidur yang cukup, yang disertakan dengan banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjakan. Dengan kejadian seperti ini maka konsentrasi dalam diri meraka, juga akan terganggu dalam menempuh kegiatan di kampus.
            Mahasiswa biasanya mengalami gejala pada saat ia akan merasa tidak mempunyai waktu tidur yang cukup. Berkurangnya kebutuhan tidur yang dimiliki, menandakan berkurang pula konsentrasi yang baik untuk menerima pelajaran dikelas. Ini sudah menjadi masalah pokok yang harus segera di atasi guna mengoptimalkan daya saing dan pikir mereka dikelas. Namun jika kita lihat kebelakang faktor yang mempengarui permasalahan diatas, tidak lain di sebebabkan oleh indivudunya sendiri.
Dengan menunda tugas yang diberikan dan rasa malas sesaat yang berkepanjangan. Ini adalah permasalahan pokok yang terjadi di lingkungan kampus Institut Teknologi Kalimantan. Kebanyakan hal ini dialami oleh mahasiswa baru yang baru saja memulai tahap metamorfosa atau peralihan dari masa siswa menjadi seorang mahasiswa. Dengan permasalahan dasar diatas maka, seorang mahasiswa akan menggunakan waktu tidurnya untuk menyelesaikan tugas, dengan jangkauan dateline besok harinya. Dengan begitu dalam waktu semalam akan digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
Otomatis kebutuhan tidur yang seharusnya digunakan untuk mengistirahatkan tubuh menjadi berkurang, hal ini akan berdampak buruk bagi keaktifan seorang mahasiswa di kelas esok harinya. Pola  pikir pula yang semestinya perlu dirubah, dengan mengabaikan metode sistem kebut semalam. Dimana jika ia berhasil menyelesaikan tugas yang pertama dengan jangkauan dateline, maka ia akan mencoba mengulangi kebiasaan ini kembali. Hal seperti ini lah yang mesti dikubur, dan ditinggalkan, karena pada dasarnya seorang mahasiswa harus mempunyai kemampuan berpikir yang logis.
Permasalahan seperti ini, sudah semestinya dikembalikan kedalam prinsip belajar seorang mahasiswa. Dengan tidak menunda tugas yang yang diberikan, serta lebih memotivasi diri sendiri agar memendam rasa malas yang dimiliki. Permasalahan kurangnya tidur bagi mahasiswa ini, kembali pada individu lagi. Bagaimana ia mampu memenejemen waktu untuk pemenuhan akademik dan non akademik di kampus.
Penutup
            Pada dasarnya kualitas istirahat atau tidur seorang mahasiswa sangat menentukan kemampuan dalam menangkap dan mengaplikasikan setiap materi perkuliahan yang diberikan. Denga ini maka permasalahan kebutuhan tidur yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri, bergantung pada diri mereka sendiri. Dengan memenejemen waktu yang baik dan tidak melalaikan tugas serta bermalas-malasan yang berlarut-larut. Penerapan sistem kebut semalam pun yang sudah sewajibnya di tinggalkan untuk memenuhi prestasi akademik maupun non akademik.
           













DAFTAR PUSTAKA
Chopra, D. 2003. Tidur Nyenyak, Mengapa Tidak? Terjemahan. Yogyakarta : Ikon
Japardi Iskandar. 2002. Gangguan Tidur. Laporan Penelitian. Fakultas Kedokteran.
Panteri, IGP. 1993. Gangguan Tidur Insomnia dan Terapinya Suatu Kajian Pustaka. Majalah        Ilmiah Unud th xx No 37.

Sabtu, 18 November 2017

Etiolasi (Cerpen)




“Islam tidak melarang cinta, perasaan itu memang dicipta untuk kita. Tapi cara bagaimana dan mencintai siapa itu yang mengubah asal hukumya”
Riuk riang keramaian kampus ini sangat membosankan. Ya membosankan karena begitu banyak drama yang sengaja dibuat oleh setiap orang. Ini adalah waktu pertamaku berada di kampus. Namun sungguh ini sangat membosankan beda dengan apa yang kuidam-idamkan saat masih duduk di bangku sekolah. Dengan bersandar di tiang-tiang penyangga bangunan ini aku berharap agar dapat pulang dengan cepat.
            Di keramaian ini tidak sengaja mataku berpapasan dengan mata yang memecah kebosanan ini. Jika tidak salah dia pun melontarkan senyumnya padaku. Sialnya aku tidak sempat mengingat wajah itu, aku hanya ingat dengan binaran oleh mata indah itu. Sangat cepat ya ini sangat cepat seketika dia sudah melewatiku, dengan sergap aku membalikkan badan untuk mengetahui siapakah gerangan sosok yang dapat membawaku keluar dari kebosanan tadi. Sial sangat sial aku tak berkesempatan melihat wajahnya, aku hanya ingat oleh postur tubuh bagian belakangnya.
Pukul 7:30 tertera di jam tangan ini kelas pun nampaknya akan dimulai, ini hanya pertemuan perdana jadi kami hanya akan diperkenalkan oleh dosen-dosen. Di kelas pun aku masih memikirkan siapa dan siapa tadi. Aku sangat penasaran dengan pemilik mata itu, bersyukur kami berada di kampus yang sama. Jadi aku pasti dapat bertemu lagi dengannya.
Waktu pulang pun tiba, aku tidak ingin bergegas pulang. Aku menunggu seseorang itu tepatnya aku menunggu di tiang tempatku bersandar pagi tadi. Dengan seksama kuperhatikan dengan jeli setiap lelaki yang berlalu lalang di depanku. Namun tidak ada yang memiliki tubuh bagian belakang seperti sosok tadi. “Nisa ayo pulang” ucap Mei, ah sungguh menjengkelkan Mei sangat menggangguku. “oh Mei iya ayo kita pulang” jawabku agak kesal.
Di sepanjang perjalanan pulang Mei bercerita tentang kelas perdananya, aku mendengarkan saja sambil sesekali menimpali ceritanya. “Kamu tadi nunggu siapa Nis?” tanya Mei. “Tidak aku tidak menunggu siapapun, aku hanya mengamati kampus baru saja hahaha” jawabku sambil tertawa.
“Eh sekalian sholat yuk” ajak Mei sambil menunjuk masjid kampus, “ah ngga ah ntar aja di kos” jawabku malas. “Issh ngga asiknya Nisa” jawab Mei jengkel.
Sesampainya di kos kubersihkan diri dan lanjut untuk bersholat. Setelah itu aku bergegas untuk makan. Dan setelah makan aku berbaring di atas kasur. Tiba-tiba saja terlintas di pikirku bahwa hidupku ini sangat monoton. Aku ingin keluar dari zona ini, tapi bagaimana caranya?
Ah aku malas memikirkan caranya sudah jalani saja hidup seperti ini. Layaknya air saja lah yang mengikuti kemana arah jalannya, toh ini sudah takdir yang diberi Allah SWT. Ya memang setiap hari di kos hanya bermain hp, nonton tv, dan makan. Toh juga nanti pasti akan sibuk sendiri dengan adanya tugas kuliah pikirku.
Dan adzan shubuh sudah terdengar lagi saatnya kembali ke dunia yang monoton. Sesampainya di kampus aku mengikuti perkuliahan dengan baik. Sudah masuk waktu untuk sholat Mei pun mengajak ku untuk bersholat di masjid. Ah aku malas untuk pulang sebentar lagi juga akan ada kelas jadi dengan terpaksa sholat saja di masjid.
“Mei habis sholat kita beli makan yuk aku laper” pintaku pada Mei, “Iya Nis aku juga laper, kita makan bakso aja yuk ntar” jawab Mei. Aku menganggukan kepala saja. Setelah selsainya dari bersholat kami bergegas menuju warung bakso. Namun saat duduk memakai sepatu, aku menemukan sosok yang memiliki binar mata yang indah kala itu. Aku melihat dengan jelas wajahnya, dia bergurau bersama teman-temanya di depan tempat berwudhu lelaki.
Dialah pemilik mata indah yang kucari dari kemarin. Parasnya pun tampan jua dengan kumis tipis yang menghiasinya dan mahkota cepaknya itu, ah tampannya. Sembari bejalan aku terus memikirkannya siapakah gerangan namanya?
“Lek bakso dua ya” pesan Mei, “Nis kamu kenapa sih dari tadi senyum ngga jelas gitu?” Tanya Mei heran “Ha apasih nggak papa kok” jawabku. Pesanan kami pun datang, “Loh Nis kamu kan ngga suka kecap” Tanya Mei, “Aduh aku ngga sengaja ngasihnya, duh ngga fokus aku” jawabku sambil menghentikan lelehan kecap. “Yaudah nih untung punyaku belum ku kasih” jawab Nisa. “Kamu kenapa sih Nis dari tadi tau lah, badan mu disini tapi pikiranmu dimana?” Tanya Mei “Apasih Mei ayo sudah makan” jawabku santai
Setelah makan kami pun kembali ke kelas. Sambil menunggu dosen ku baca buku-buku mata kuliah hari ini. Ada segerombol kaka tingkat yang memasuki kelas. Ternyata mereka dari sebuah organisasi Islam yang ada di kampus, mereka ingin memberitahu bahwa telah diadakan oprec anggota. Aku tidak memperhatikan dengan seksama apa-apa saja yang mereka sampaikan.
Tiba-tiba datanglah seorang yang membuatku terkejut. Ya dia adalah lelaki itu, dia memperkenalkan dirinya dan tersenyum kearahku. Mungkin karena dia heran melihatku begitu menganga memperhatikannya. Aku berniat besar untuk mengikuti organisasi tersebut. Alasan terbesarku adalah ingin mengenal lebih dekat siapa dia.
Hari dimana pertemuan perdana organisasi ini aku sangat bersemangat. Mei sangat bingung kenapa bisa aku bergabung dengan organisasi ini. Aku hanyak mengatakan jika aku ingin memperdalam agama saja. Dan Mei percaya dengan apa yang kukatakan. Aku mengira akan memandang dia dengan puas. Mata kami dapat bertemu lagi, mendapat senyum darinya. Ternyata diluar dugaanku dia tidak muncul di pertemuan itu. Ya sangat sial setiap ada agenda dengan organisasi ini dia tak pernah muncul. Sampai-sampai aku lupa apa niat awalku untuk mengikuti organisasi ini karena lebih asik melakukan hal-hal di keorganisasian ini.
Aku merasa lebih disiplin terhadap waktu, pengetahuan tentang ibadah juga semakin banyak, dan aku merasa hidupku tidak monoton lagi. Juga aku mengetahui tidak boleh kita terlalu mendamba pada lawan jenis apalagi berharap menjadi pacarnya. “Sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang namanya ada dalam setiap bait doa mu” itu salah satu tausiyah yg sangat ku ingat.
Hingga suatu hari Mei menemukan sebuah surat yang dulunya ingin kuberikan kepada lelaki itu. Surat yg berisi “Wahai akhi aku tau aku tak pantas bila bersanding dengamu, namun aku berusaha dalam ketidakpantasan ini bisa bersanding denganmu. Terimakasih kala itu kau sempatkan untuk menatapku. Kau yang memecah bosanku hingga membuatku sangat ingin tahu sosokmu. Kau tau aku sangat mendambamu banyak cara kulakukan agar bisa berada dekat dengamu. Jika kau berpikir aku sangat ceroboh mengatakan ini, tak ada masalah bagiku sebab dulu pun Khadijah melamar baginda Nabi Muhammad terlebih dulu.”
Mei menemukan surat itu di tumpukan buku yang ada di rak kamarku. Diapun bergegas mengintrogasiku. “Nisa kamu yg menulis ini?” Tanya Mei agak marah “Kamu kok bisa dapet itu sih?” tanyaku heran. “Nis kalo emang kamu mau ikut organisasi ini cuma buat yg kaya gini, mending sekarang kamu keluar deh. Kamu cuma buat jelek diri kamu kalo niatmu ngga baik Nis!” sahut Mei “Ngga Mei ngga iya memang dulu niatku buat ikut ini cuma buat dia, tapi sekarang enggak aku udah tau kalo yang aku lakuin dulu itu salah ngga seharusnya aku ngelakuin ini. Tapi sekarang aku beda Mei aku akuin aku masih kagum sama dia tapi sekarang aku tahu kalo perasaan ku ini ngga boleh terus ada. Aku sudah buat coba ngehilanginnya Mei. Percaya sama aku” jelasku.
Mei pun mempercayaiku, ya memang aku sudah berusaha melupakannya. Karena sering mengikuti tausiyah-tausiyah aku jadi tahu cara ini salah kulakukan untuk mecintainya. Aku akan memelukmu dalam setiap doa yg ku lantunkan kepada Allah SWT.
Menyesal pernah memiliki perasaan itu? Tidak aku justru berterimakasih karena dengan itu aku bisa bergabung dengan organisasi ini dan membuatku lebih mengerti dengan agama ini. Aku sangat berterimakasih padamu wahai lelaki yang kuharap dapat menjadi imam ku kelak, karena telah membawaku ke jalan yg lebih baik seperti sekarang.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kisah cinta Ali dan Fatimah. Yang diam-diam saling mendamba hingga akhirnya Allah mempersatukannya jua”

Minggu, 27 November 2016

KOPIMU TUAN


Pukul 8 malam telah tertera di jam tangan dan aku masih berada di angkringan kopi menunggu Tuan untuk datang. Aku gelisah bukan karna khawatir Tuan tak datang tapi aku tidak tahan dengan dinginnya malam  di kota Batu yang menusuk hingga ke tulang, walaupun di depan mataku tersaji kopi hangat. Tiba-tiba ada panggilan yang tak asing untuk ku mendengarnya hingga meruntuhkan gelisah yang hampir memuncak ini.
“Nindi! Kau sudah lama menunggu ku?” tanya Tuan sambil duduk tepat di depan ku.
“Tidak terlalu lama” jawab ku singkat.
“Maaf aku mendadak untuk mengajak mu bertemu, apakah kau masih mengingat ku?” tanyanya lagi.
Aku hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum di bibir ku.
            Ini memang pertemuan ku untuk pertama kali dengan Tuan setelah kami lulus SMA. Dia banyak berubah terutama pada wajahnya yang sekarang ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin membuatnya terlihat mempesona. Pertemuan kami ini sangat canggung aku ingin membuka percakapan tapi aku sungkan. Seperti mendengar kata hatiku, seketika Tuan membuka obrolan namun membuat ku tercengang.
“Maafkan aku untuk perbuatan ku kala itu, kau masih mengingatnya bukan?” tanya Tuan.
“Tak apa itu adalah kenangan remaja yang berkesan untuk ku” jawabku.
“Tapi apa kau ingin bertemu dengan ku hanya untuk ini?” sambungku.
“Tidak, ada banyak yang ingin kusampaikan tapi tak akan cukup jika aku menjelaskannya malam ini” jawab Tuan dengan mata tajam menatapku.
            Karena pertemuan ini begitu canggung untuk ku, jadi aku memutuskan untuk pamit. Namun Tuan mencegah ku, bukan tak membiarkan ku untuk pamit tapi Tuan ingin meminta nomor telfon ku agar dia dapat menghubungiku, akupun memberinya tanpa berpikir lama. Memang pertemuan kami ini berawal dari sosial media, dia menyapaku dan mengajak ku untuk bertemu. Bergegas aku pulang dengan mengendarai Piaggio Vespa yang menemaniku kemanapun aku pergi.
            Sesampainya di rumah aku langsung mengganti pakaian untuk tidur. Namun tidak mudah untuk memejamkan mata walupun badan memberontak untuk tidur. Aku masih bingung mengapa Tuan bersikap seperti tadi. Ini sangat bertolak belakang dengan sikapnya sewaktu dulu.
            Saat di bangku SMA aku dan Tuan cukup dekat sebagai teman. Aku mengenalnya saat Ibu menyuruh ku pergi mengambil pesanan kue untuk pengajian dan itu berada di rumah Tuan. Awalnya aku tak tau namun disana aku melihat Tuan dan Ia menyapaku. Setelah saat itu kami saling mengenal.
            Kami menjadi semakin dekat karena aku sering bertanya cara membuat kue kepada Tuan. Dia meladeni saja dengan semua pertanyaan ku. Hingga suatu ketika aku diundang ke rumahnya untuk belajar membuat kue bersama ibunya. Dan saat itulah aku merasa jatuh hati pada Tuan.
            Tidak hanya parasnya yang tampan, sikapnya yang lembut, pembawaannya yang dewasa, membuat hati ini semakin yakin. Setelah selesai membuat kue, aku dan Tuan duduk berhadapan di sebuah meja taman dekat rumahnya, sambil ditemani kopi hangat dan kue buatan kami.
            Aku tidak sengaja mengatakan jika aku menyukainya, entah karena kafein di kopi yang membuat ku tak sadar diri atau karena suasana yang menurutku romantis. Namun jawaban Tuan membuatku patah hati.
“Kau tau apa soal cinta, kau masih terlalu dini untuk mengatakan hal yang begitu rumit seperti cinta! Tak ku sangka Nin kau melangkah terlalu jauh, padahal aku sudah nyaman dengan pertemanan ini. Dan kau menghancurkannya hanya karena soal nafsu. Sudah pergilah aku tak ingin mengenalmu, kau membuatku kecewa, jangan temui aku lagi!” jawab Tuan dengan kasar.
            Sejak saat itu kami tak pernah bertegur sapa lagi, pernah aku mencoba untuk meminta maaf. Namun Tuan malah mengabaikan permintamaafan ku itu. Aku mulai tersadar bahwa seharusnya tak ku sampaikan perasaan ku padanya waktu itu.  Dan aku memutuskan untuk membenci secangkir kopi karena dia penyebab ini semua.
            Hari semakin malam dan aku mencoba memecahkan ingatan tentang Tuan dan memaksakan mata untuk terpejam. Pagi hari saat terbangun aku mendapati Tuan mengirimkan pesan yang berisi
“Selamat pagi, bisakah kita bertemu petang nanti? Aku menunggu mu di Alun-alun kota”
Aku tak membalasnya dan bergegas membersihkan diri untuk bersiap bekerja.
            Petangnya aku pergi ke Alun-alun, disana ku lihat Tuan telah menungguku.
“Hai!” sapa ku.
“Hai, kau sudah sampai ayo kita naik!” ajaknya.
Kami mengendarai sepeda aku diboncengnya walaupun agak aneh bagiku dengan sikapnya yg seperti ini.
“Mengapa kau mengajak ku bertemu?” tanyaku.
“Aku hanya ingin menikmati waktu berdua dengan mu, apakah kau tidak suka?” tanya Tuan.
“Tidak seperti itu, aku hanya terkejut” jawabku lirih.
            Sebenarnya aku sangat menyukai ini namun aku malu untuk mengakuinya. Tiba-tiba Tuan menghentikan kayuhannya dan turun dari sepeda
“Maaf dulu aku tidak ingin berkata seperti itu, tapi karna kau mengatakan mendadak dan aku malu mengakuinya juga jadi aku berkata sepeti itu” jelasnya.
“Apa! Kau malu? Lebih malu siapa aku atau kau?” jawab ku kesal.
“Dulu aku masih tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya! Aku ingin berkata “Aku juga menyukaimu” tapi masih terlalu dini jika aku mengungkapkan” katanya.
“Lalu sekarang apa? Kau ingin mempermainkanku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak sekarang aku serius aku ingin membuat cerita indah dengan mu! Aku ingin kita menikmati kopi di satu meja yang sama dengan damai” jawabnya sambil memegang tangan ku.
            Aku menghempaskan genggamannya dan berpaling pergi meninggalkannya. Seketika suasana hatiku seperti mendung yang membuat bumi gelap gulita,aku benci mengapa dia pengecut seperti itu. Dia mengejarku mencoba untuk menjelaskan, saat dia meraih tangan ku, aku menamparnya seraya berkata,
“Kau pengecut!”
Dia bahkan tak menyerah dia memegang pundak ku meyakinkan ku dan berkata,
“Aku akan buktikan, padamu!” tegasnya.
            Aku tetap berteguh pada pendirian ku dan meninggalkannya. Aku berlari menuju tempat parkir, kuambil motor ku dan pergi meninggalkan Alun-alun kota yang menjadi saksi bisu pengakuannya padaku. Maafkan sikap ku ini Tuan, telah menghancurkan hatimu. Aku tidak bermaksud tapi lukaku masih belum kering.
            Aku takut Tuan kau mempermainkan hatiku. Aku ingin mengetahui bagaimana perjuangan mu kali ini. Aku ingin menjawab “Tuan aku juga menyukaimu” tapi perasaan takut ini terlalu besar Tuan. Aku tidak bisa menerima seseorang yang sebelumnya pergi seenaknya tanpa berpikir bagaimana perasaan ku.
            Sesampainya di rumah aku terduduk lemas di kasur sambil mengusap air mata. Aku bimbang apakah jalan yang kuambil ini benar atau salah. Ibu membuka pintu dan menghampiriku.
“Kenapa? Ceritakan semua pada Ibu” kata Ibu.
Akupun menceritakan semuanya, Ibu menasehati ku agar aku tidak terlalu mengambil pusing masalah ini.
“Jika dia memang serius pasti akan Ia tunjukkan secepatnya, sudah jangan menangis” kata Ibu.
            Esoknya di tempat kerja Tuan datang untuk menemuiku namun aku enggan untuk bertemu dia. Jadi aku menitipkan pesan pada salah satu teman untuk disampaikan pada Tuan dan Tuan menitipkan serangkai bunga untuk ku. Maafkan aku Tuan aku belum sanggup untuk dapat berhadapan denganmu.
            Aku takut jika kita bertemu dan aku menatap matamu aku tak bisa menahan air mata yang nanti keluar. Meskipun aku sangat ingin bertemu dengan Tuan untuk meminta maaf dan menuntaskan rindu ini. Sabarlah Tuan sebentar lagi saat aku sudah siap untuk menghadapi semua aku akan mengatakannya padamu.
            Sepulang dari kerja aku kaget saat mobil Tuan terparkir di depan rumahku. Saat aku masuk ternyata Tuan telah disambut oleh Ibu dan Ayah.
“Assalamualaikum” sapa ku.
“Waalaikumsalam” jawab mereka bertiga serempak.
“Nindi, dia telah menunggu mu sejak tadi” kata Ibu.
“Ayo kita berbicara di luar” ajak ku ketus.
Tuan berjalan mengikutiku ke luar rumah
“Apa kau bisa ikut dengan ku?” Tanya Tuan.
“Kemana? Cukup disini saja” jawab ku ketus.
            Tuan menggandeng tangan ku dan memasukkan aku ke dalam mobilnya,
“Kenapa? Lepas tanganku” pintaku padanya.
Namun Tuan tak mempedulikan aku dia masuk dan menyetir mobil. Di dalam mobil Tuan berkata bahwa dia telah berbicara pada orang tua ku,
“Aku telah meminta izin pada orang tua mu dan mereka menyetujuinya, tinggal kau setuju atau tidak?” tanyanya.
“Apa kau serius?  Mengapa mendadak?” tanyaku balik.
“Kau bilang kau ingin bukti jadi aku buktikan. Bagaimana kau setuju, jika ya minggu depan aku akan membawa orang tua ku untuk kerumah mu” jelasnya.
            Aku hanya diam tak berani menjawab dan setelah kami berputar mengelilingi kompleks, Tuan membawa ku pulang kerumah. Seturunnya dari mobil
“Maaf tapi aku tak dapat memberi jawaban sekarang, mungkin besok baru aku beri jawabannya” kataku dan segera meninggalkannya.
            Saat memasuki rumah kulihat Ayah dan Ibu seperti menungguku di ruang tamu.
“Bagaimana nak? Kau menolaknya atau menerimanya? Ibu mu telah menceritakan semua” tanya Ayah padaku.
“Aku belum menjawabnya Yah, aku masih bimbang harus menjawab apa!” jawabku lirih.
“Jangan hanya menuruti egomu, Ayah dan Ibu mendukung apapun pilihan mu” kata Ayah.
            Setelah berbicara pada Ayah dan Ibu aku masuk ke kamar dan menelfon Tuan,
“Iya ada apa Nin?” tanya Tuan.
“Bisa kita bicara besok? Aku tunggu di taman” jawabku.
“Iya aku akan datang” jawabnya.
Setelah mematikan telfon aku mulai mencerna satu persatu semua masalah dengan baik. Aku pertimbangkan dengan baik, agar tak salah mengambil keputusan hingga aku terlelap tidur.
            Esoknya aku meminta izin pada bos ku jika aku tak dapat masuk kerja. Saat di taman
“maaf aku telat” kataku sambil merapikan rambut.
“iya tak apa, jadi kau ingin berkata apa?” tanyanya.
“aku setuju dengan semua” jawabku.
“Benarkah? Aku tidak salah dengar bukan?” tanyanya kegirangan
“Iya, sebenarnya saat kita pertama bertemu aku sudah berharap banyak terhadapmu, tapi aku juga takut jika ini hanya permainanmu. Kau tau Tuan aku sangat sedih saat berpisah denganmu, aku telah memutuskan untuk menutup hati dan tetap pada pilihan ku yaitu kamu. Aku masih tak menyangka jika kau mau bersanding dengan ku. Maafkan saat aku menampar mu waktu itu, pikiranku saat itu sedang bentrok untuk dapat mempercayaimu atau tidak” jawabku.
“Sudah lupakan semua mari kita buat cerita baru dengan lebih indah” kata Tuan sambil mengusap kepala ku.
“Aduh gimana ya ngomongnya, maukah kamu saudari Nindi saat bangun tidur melihat saya. Makan pagi eh ada saya lagi, pulang kantor loh kok saya lagi. Sholat berjamaah imamnya saya. Kalau flu yang membuat bubur saya. Bagi tugas mengganti popok bayi dengan saya. Diskusi mengenai sekolah anak dengan saya. Mencabut uban dengan saya, buatin saya kopi tiap pagi. Yah semacam saya lagi, saya lagi setiap hari. Kau siap Nin?” sambungnya sambil mencubit hidungku.
            Setelah beberapa hari akhirnya ini adalah hari saat dimana Tuan membawa orang tuanya kerumah ku atau sering disebut lamaran. Dengan memakai kebaya berwarna putih dan tatanan rambut seperti putri keraton, aku duduk menunggu kedatangan Tuan.
Gelisah, senang, dan malu yang sekarang aku rasakan. Sampai-sampai Ibu menanyai aku karena gerak-gerik ku yang seperti salah tingkah ini.
“Kenapa nak?” tanya Ibu.
“Tidak Bu aku hanya deg-degan saja” jawabku.
“Kau ini, bagaimana jika pernikahan nanti?” tanya ibu mengejek ku.
“Ibu..” jawabku sambil memeluknya.
“Mobil rombongan pria sudah datang” kata sepupu ku.
            Mereka pun masuk ke dalam rumah disambut dengan gembira oleh keluarga ku. Setelah bercakap-cakap cukup lama akhirnya inilah penyerahan cincin dari calon pria untuk calon wanita. Aku keluar dari kamar dan langsung duduk di tempat yang telah disiapkan. Lalu Tuan menghampiriku dengan wajah yang mempesona ditambah senyum manis nan legitnya.
            Tuan memberiku cincin dan semua orang di ruangan tersebut  bertepuk tangan. Inilah saat dimana penentuan hari dan tanggal kami untuk menikah. Akhirnya diputuskan kami akan menikah empat bulan lagi tepatnya hari Senin tanggal 29.
            Lega rasanya mendengar keputusan itu. Aku tidak sabar untuk bisa membuat segelas kopi panas untuk mu dipagi hari kelak Tuan. Aku sangat menunggu saat dimana kami berdua terjaga karena tangisan bayi di tengah malam. Apakah ini yang dinamakan jodoh dulu kami terpisah lama hanya karena masalah sepele.
Dan telah kuputuskan aku tak membenci kopi lagi, bahkan aku sangat ingin meminumnya setiap saat. Sekarang dengan kedatangan Tuan ke rumah ku dan membawa cincin yang telah melingkar di jari manis ku, aku percaya bahwa sejauh apapun seseorang meninggalkanmu namun jika takdirmu adalah orang tersebut maka dengan rintangan apapun kalian akan dipertemukan kembali dengan cara yang sederhana ataupun luar biasa.