Pukul 8 malam telah tertera di jam tangan dan aku masih berada di angkringan kopi menunggu Tuan untuk datang. Aku gelisah bukan karna khawatir Tuan tak datang tapi aku tidak tahan dengan dinginnya malam di kota Batu yang menusuk hingga ke tulang, walaupun di depan mataku tersaji kopi hangat. Tiba-tiba ada panggilan yang tak asing untuk ku mendengarnya hingga meruntuhkan gelisah yang hampir memuncak ini.
“Nindi! Kau sudah lama menunggu ku?”
tanya Tuan sambil duduk tepat di depan ku.
“Tidak terlalu lama” jawab ku singkat.
“Maaf aku mendadak untuk mengajak mu
bertemu, apakah kau masih mengingat ku?” tanyanya lagi.
Aku hanya membalas pertanyaan itu dengan
senyum di bibir ku.
Ini
memang pertemuan ku untuk pertama kali dengan Tuan setelah kami lulus SMA. Dia
banyak berubah terutama pada wajahnya yang sekarang ditumbuhi bulu-bulu halus
yang semakin membuatnya terlihat mempesona. Pertemuan kami ini sangat canggung
aku ingin membuka percakapan tapi aku sungkan. Seperti mendengar kata hatiku, seketika
Tuan membuka obrolan namun membuat ku tercengang.
“Maafkan aku untuk perbuatan ku kala
itu, kau masih mengingatnya bukan?” tanya Tuan.
“Tak apa itu adalah kenangan remaja yang
berkesan untuk ku” jawabku.
“Tapi apa kau ingin bertemu dengan ku
hanya untuk ini?” sambungku.
“Tidak, ada banyak yang ingin
kusampaikan tapi tak akan cukup jika aku menjelaskannya malam ini” jawab Tuan
dengan mata tajam menatapku.
Karena
pertemuan ini begitu canggung untuk ku, jadi aku memutuskan untuk pamit. Namun
Tuan mencegah ku, bukan tak membiarkan ku untuk pamit tapi Tuan ingin meminta
nomor telfon ku agar dia dapat menghubungiku, akupun memberinya tanpa berpikir
lama. Memang pertemuan kami ini berawal dari sosial media, dia menyapaku dan
mengajak ku untuk bertemu. Bergegas aku pulang dengan mengendarai Piaggio Vespa
yang menemaniku kemanapun aku pergi.
Sesampainya
di rumah aku langsung mengganti pakaian untuk tidur. Namun tidak mudah untuk
memejamkan mata walupun badan memberontak untuk tidur. Aku masih bingung
mengapa Tuan bersikap seperti tadi. Ini sangat bertolak belakang dengan
sikapnya sewaktu dulu.
Saat
di bangku SMA aku dan Tuan cukup dekat sebagai teman. Aku mengenalnya saat Ibu
menyuruh ku pergi mengambil pesanan kue untuk pengajian dan itu berada di rumah
Tuan. Awalnya aku tak tau namun disana aku melihat Tuan dan Ia menyapaku.
Setelah saat itu kami saling mengenal.
Kami
menjadi semakin dekat karena aku sering bertanya cara membuat kue kepada Tuan.
Dia meladeni saja dengan semua pertanyaan ku. Hingga suatu ketika aku diundang
ke rumahnya untuk belajar membuat kue bersama ibunya. Dan saat itulah aku
merasa jatuh hati pada Tuan.
Tidak
hanya parasnya yang tampan, sikapnya yang lembut, pembawaannya yang dewasa,
membuat hati ini semakin yakin. Setelah selesai membuat kue, aku dan Tuan duduk
berhadapan di sebuah meja taman dekat rumahnya, sambil ditemani kopi hangat dan
kue buatan kami.
Aku
tidak sengaja mengatakan jika aku menyukainya, entah karena kafein di kopi yang
membuat ku tak sadar diri atau karena suasana yang menurutku romantis. Namun
jawaban Tuan membuatku patah hati.
“Kau tau apa soal cinta, kau masih
terlalu dini untuk mengatakan hal yang begitu rumit seperti cinta! Tak ku
sangka Nin kau melangkah terlalu jauh, padahal aku sudah nyaman dengan
pertemanan ini. Dan kau menghancurkannya hanya karena soal nafsu. Sudah
pergilah aku tak ingin mengenalmu, kau membuatku kecewa, jangan temui aku
lagi!” jawab Tuan dengan kasar.
Sejak
saat itu kami tak pernah bertegur sapa lagi, pernah aku mencoba untuk meminta
maaf. Namun Tuan malah mengabaikan permintamaafan ku itu. Aku mulai tersadar
bahwa seharusnya tak ku sampaikan perasaan ku padanya waktu itu. Dan aku memutuskan untuk membenci secangkir
kopi karena dia penyebab ini semua.
Hari
semakin malam dan aku mencoba memecahkan ingatan tentang Tuan dan memaksakan
mata untuk terpejam. Pagi hari saat terbangun aku mendapati Tuan mengirimkan
pesan yang berisi
“Selamat
pagi, bisakah kita bertemu petang nanti? Aku menunggu mu di Alun-alun kota”
Aku tak membalasnya dan bergegas
membersihkan diri untuk bersiap bekerja.
Petangnya
aku pergi ke Alun-alun, disana ku lihat Tuan telah menungguku.
“Hai!” sapa ku.
“Hai, kau sudah sampai ayo kita naik!”
ajaknya.
Kami mengendarai sepeda aku diboncengnya
walaupun agak aneh bagiku dengan sikapnya yg seperti ini.
“Mengapa kau mengajak ku bertemu?”
tanyaku.
“Aku hanya ingin menikmati waktu berdua
dengan mu, apakah kau tidak suka?” tanya Tuan.
“Tidak seperti itu, aku hanya terkejut”
jawabku lirih.
Sebenarnya
aku sangat menyukai ini namun aku malu untuk mengakuinya. Tiba-tiba Tuan
menghentikan kayuhannya dan turun dari sepeda
“Maaf dulu aku tidak ingin berkata
seperti itu, tapi karna kau mengatakan mendadak dan aku malu mengakuinya juga
jadi aku berkata sepeti itu” jelasnya.
“Apa! Kau malu? Lebih malu siapa aku
atau kau?” jawab ku kesal.
“Dulu aku masih tidak punya keberanian
untuk mengungkapkannya! Aku ingin berkata “Aku
juga menyukaimu” tapi masih terlalu dini jika aku mengungkapkan” katanya.
“Lalu sekarang apa? Kau ingin
mempermainkanku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak sekarang aku serius aku ingin
membuat cerita indah dengan mu! Aku ingin kita menikmati kopi di satu meja yang
sama dengan damai” jawabnya sambil memegang tangan ku.
Aku
menghempaskan genggamannya dan berpaling pergi meninggalkannya. Seketika
suasana hatiku seperti mendung yang membuat bumi gelap gulita,aku benci mengapa
dia pengecut seperti itu. Dia mengejarku mencoba untuk menjelaskan, saat dia
meraih tangan ku, aku menamparnya seraya berkata,
“Kau pengecut!”
Dia bahkan tak menyerah dia memegang
pundak ku meyakinkan ku dan berkata,
“Aku akan buktikan, padamu!” tegasnya.
Aku
tetap berteguh pada pendirian ku dan meninggalkannya. Aku berlari menuju tempat
parkir, kuambil motor ku dan pergi meninggalkan Alun-alun kota yang menjadi
saksi bisu pengakuannya padaku. Maafkan sikap ku ini Tuan, telah menghancurkan
hatimu. Aku tidak bermaksud tapi lukaku masih belum kering.
Aku
takut Tuan kau mempermainkan hatiku. Aku ingin mengetahui bagaimana perjuangan
mu kali ini. Aku ingin menjawab “Tuan aku
juga menyukaimu” tapi perasaan takut ini terlalu besar Tuan. Aku tidak bisa
menerima seseorang yang sebelumnya pergi seenaknya tanpa berpikir bagaimana
perasaan ku.
Sesampainya
di rumah aku terduduk lemas di kasur sambil mengusap air mata. Aku bimbang
apakah jalan yang kuambil ini benar atau salah. Ibu membuka pintu dan
menghampiriku.
“Kenapa? Ceritakan semua pada Ibu” kata
Ibu.
Akupun menceritakan semuanya, Ibu
menasehati ku agar aku tidak terlalu mengambil pusing masalah ini.
“Jika dia memang serius pasti akan Ia
tunjukkan secepatnya, sudah jangan menangis” kata Ibu.
Esoknya
di tempat kerja Tuan datang untuk menemuiku namun aku enggan untuk bertemu dia.
Jadi aku menitipkan pesan pada salah satu teman untuk disampaikan pada Tuan dan
Tuan menitipkan serangkai bunga untuk ku. Maafkan aku Tuan aku belum sanggup
untuk dapat berhadapan denganmu.
Aku
takut jika kita bertemu dan aku menatap matamu aku tak bisa menahan air mata
yang nanti keluar. Meskipun aku sangat ingin bertemu dengan Tuan untuk meminta
maaf dan menuntaskan rindu ini. Sabarlah Tuan sebentar lagi saat aku sudah siap
untuk menghadapi semua aku akan mengatakannya padamu.
Sepulang
dari kerja aku kaget saat mobil Tuan terparkir di depan rumahku. Saat aku masuk
ternyata Tuan telah disambut oleh Ibu dan Ayah.
“Assalamualaikum” sapa ku.
“Waalaikumsalam” jawab mereka bertiga
serempak.
“Nindi, dia telah menunggu mu sejak
tadi” kata Ibu.
“Ayo kita berbicara di luar” ajak ku
ketus.
Tuan berjalan mengikutiku ke luar rumah
“Apa kau bisa ikut dengan ku?” Tanya
Tuan.
“Kemana? Cukup disini saja” jawab ku
ketus.
Tuan
menggandeng tangan ku dan memasukkan aku ke dalam mobilnya,
“Kenapa? Lepas tanganku” pintaku padanya.
Namun Tuan tak mempedulikan aku dia
masuk dan menyetir mobil. Di dalam mobil Tuan berkata bahwa dia telah berbicara
pada orang tua ku,
“Aku telah meminta izin pada orang tua
mu dan mereka menyetujuinya, tinggal kau setuju atau tidak?” tanyanya.
“Apa kau serius? Mengapa mendadak?” tanyaku balik.
“Kau bilang kau ingin bukti jadi aku
buktikan. Bagaimana kau setuju, jika ya minggu depan aku akan membawa orang tua
ku untuk kerumah mu” jelasnya.
Aku
hanya diam tak berani menjawab dan setelah kami berputar mengelilingi kompleks,
Tuan membawa ku pulang kerumah. Seturunnya dari mobil
“Maaf tapi aku tak dapat memberi jawaban
sekarang, mungkin besok baru aku beri jawabannya” kataku dan segera
meninggalkannya.
Saat
memasuki rumah kulihat Ayah dan Ibu seperti menungguku di ruang tamu.
“Bagaimana nak? Kau menolaknya atau
menerimanya? Ibu mu telah menceritakan semua” tanya Ayah padaku.
“Aku belum menjawabnya Yah, aku masih
bimbang harus menjawab apa!” jawabku lirih.
“Jangan hanya menuruti egomu, Ayah dan
Ibu mendukung apapun pilihan mu” kata Ayah.
Setelah
berbicara pada Ayah dan Ibu aku masuk ke kamar dan menelfon Tuan,
“Iya ada apa Nin?” tanya Tuan.
“Bisa kita bicara besok? Aku tunggu di
taman” jawabku.
“Iya aku akan datang” jawabnya.
Setelah mematikan telfon aku mulai
mencerna satu persatu semua masalah dengan baik. Aku pertimbangkan dengan baik,
agar tak salah mengambil keputusan hingga aku terlelap tidur.
Esoknya
aku meminta izin pada bos ku jika aku tak dapat masuk kerja. Saat di taman
“maaf aku telat” kataku sambil merapikan
rambut.
“iya tak apa, jadi kau ingin berkata
apa?” tanyanya.
“aku setuju dengan semua” jawabku.
“Benarkah? Aku tidak salah dengar
bukan?” tanyanya kegirangan
“Iya, sebenarnya saat kita pertama
bertemu aku sudah berharap banyak terhadapmu, tapi aku juga takut jika ini
hanya permainanmu. Kau tau Tuan aku sangat sedih saat berpisah denganmu, aku
telah memutuskan untuk menutup hati dan tetap pada pilihan ku yaitu kamu. Aku
masih tak menyangka jika kau mau bersanding dengan ku. Maafkan saat aku
menampar mu waktu itu, pikiranku saat itu sedang bentrok untuk dapat
mempercayaimu atau tidak” jawabku.
“Sudah lupakan semua mari kita buat
cerita baru dengan lebih indah” kata Tuan sambil mengusap kepala ku.
“Aduh gimana ya ngomongnya, maukah kamu
saudari Nindi saat bangun tidur melihat saya. Makan pagi eh ada saya lagi,
pulang kantor loh kok saya lagi. Sholat berjamaah imamnya saya. Kalau flu yang
membuat bubur saya. Bagi tugas mengganti popok bayi dengan saya. Diskusi mengenai
sekolah anak dengan saya. Mencabut uban dengan saya, buatin saya kopi tiap
pagi. Yah semacam saya lagi, saya lagi setiap hari. Kau siap Nin?” sambungnya sambil
mencubit hidungku.
Setelah
beberapa hari akhirnya ini adalah hari saat dimana Tuan membawa orang tuanya
kerumah ku atau sering disebut lamaran. Dengan memakai kebaya berwarna putih
dan tatanan rambut seperti putri keraton, aku duduk menunggu kedatangan Tuan.
Gelisah, senang, dan
malu yang sekarang aku rasakan. Sampai-sampai Ibu menanyai aku karena
gerak-gerik ku yang seperti salah tingkah ini.
“Kenapa nak?” tanya Ibu.
“Tidak Bu aku hanya deg-degan saja”
jawabku.
“Kau ini, bagaimana jika pernikahan
nanti?” tanya ibu mengejek ku.
“Ibu..” jawabku sambil memeluknya.
“Mobil rombongan pria sudah datang” kata
sepupu ku.
Mereka
pun masuk ke dalam rumah disambut dengan gembira oleh keluarga ku. Setelah
bercakap-cakap cukup lama akhirnya inilah penyerahan cincin dari calon pria
untuk calon wanita. Aku keluar dari kamar dan langsung duduk di tempat yang
telah disiapkan. Lalu Tuan menghampiriku dengan wajah yang mempesona ditambah
senyum manis nan legitnya.
Tuan
memberiku cincin dan semua orang di ruangan tersebut bertepuk tangan. Inilah saat dimana penentuan
hari dan tanggal kami untuk menikah. Akhirnya diputuskan kami akan menikah
empat bulan lagi tepatnya hari Senin tanggal 29.
Lega
rasanya mendengar keputusan itu. Aku tidak sabar untuk bisa membuat segelas
kopi panas untuk mu dipagi hari kelak Tuan. Aku sangat menunggu saat dimana
kami berdua terjaga karena tangisan bayi di tengah malam. Apakah ini yang
dinamakan jodoh dulu kami terpisah lama hanya karena masalah sepele.
Dan telah kuputuskan
aku tak membenci kopi lagi, bahkan aku sangat ingin meminumnya setiap saat. Sekarang
dengan kedatangan Tuan ke rumah ku dan membawa cincin yang telah melingkar di
jari manis ku, aku percaya bahwa sejauh apapun seseorang meninggalkanmu namun
jika takdirmu adalah orang tersebut maka dengan rintangan apapun kalian akan
dipertemukan kembali dengan cara yang sederhana ataupun luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar