Minggu, 27 November 2016

KOPIMU TUAN


Pukul 8 malam telah tertera di jam tangan dan aku masih berada di angkringan kopi menunggu Tuan untuk datang. Aku gelisah bukan karna khawatir Tuan tak datang tapi aku tidak tahan dengan dinginnya malam  di kota Batu yang menusuk hingga ke tulang, walaupun di depan mataku tersaji kopi hangat. Tiba-tiba ada panggilan yang tak asing untuk ku mendengarnya hingga meruntuhkan gelisah yang hampir memuncak ini.
“Nindi! Kau sudah lama menunggu ku?” tanya Tuan sambil duduk tepat di depan ku.
“Tidak terlalu lama” jawab ku singkat.
“Maaf aku mendadak untuk mengajak mu bertemu, apakah kau masih mengingat ku?” tanyanya lagi.
Aku hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum di bibir ku.
            Ini memang pertemuan ku untuk pertama kali dengan Tuan setelah kami lulus SMA. Dia banyak berubah terutama pada wajahnya yang sekarang ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin membuatnya terlihat mempesona. Pertemuan kami ini sangat canggung aku ingin membuka percakapan tapi aku sungkan. Seperti mendengar kata hatiku, seketika Tuan membuka obrolan namun membuat ku tercengang.
“Maafkan aku untuk perbuatan ku kala itu, kau masih mengingatnya bukan?” tanya Tuan.
“Tak apa itu adalah kenangan remaja yang berkesan untuk ku” jawabku.
“Tapi apa kau ingin bertemu dengan ku hanya untuk ini?” sambungku.
“Tidak, ada banyak yang ingin kusampaikan tapi tak akan cukup jika aku menjelaskannya malam ini” jawab Tuan dengan mata tajam menatapku.
            Karena pertemuan ini begitu canggung untuk ku, jadi aku memutuskan untuk pamit. Namun Tuan mencegah ku, bukan tak membiarkan ku untuk pamit tapi Tuan ingin meminta nomor telfon ku agar dia dapat menghubungiku, akupun memberinya tanpa berpikir lama. Memang pertemuan kami ini berawal dari sosial media, dia menyapaku dan mengajak ku untuk bertemu. Bergegas aku pulang dengan mengendarai Piaggio Vespa yang menemaniku kemanapun aku pergi.
            Sesampainya di rumah aku langsung mengganti pakaian untuk tidur. Namun tidak mudah untuk memejamkan mata walupun badan memberontak untuk tidur. Aku masih bingung mengapa Tuan bersikap seperti tadi. Ini sangat bertolak belakang dengan sikapnya sewaktu dulu.
            Saat di bangku SMA aku dan Tuan cukup dekat sebagai teman. Aku mengenalnya saat Ibu menyuruh ku pergi mengambil pesanan kue untuk pengajian dan itu berada di rumah Tuan. Awalnya aku tak tau namun disana aku melihat Tuan dan Ia menyapaku. Setelah saat itu kami saling mengenal.
            Kami menjadi semakin dekat karena aku sering bertanya cara membuat kue kepada Tuan. Dia meladeni saja dengan semua pertanyaan ku. Hingga suatu ketika aku diundang ke rumahnya untuk belajar membuat kue bersama ibunya. Dan saat itulah aku merasa jatuh hati pada Tuan.
            Tidak hanya parasnya yang tampan, sikapnya yang lembut, pembawaannya yang dewasa, membuat hati ini semakin yakin. Setelah selesai membuat kue, aku dan Tuan duduk berhadapan di sebuah meja taman dekat rumahnya, sambil ditemani kopi hangat dan kue buatan kami.
            Aku tidak sengaja mengatakan jika aku menyukainya, entah karena kafein di kopi yang membuat ku tak sadar diri atau karena suasana yang menurutku romantis. Namun jawaban Tuan membuatku patah hati.
“Kau tau apa soal cinta, kau masih terlalu dini untuk mengatakan hal yang begitu rumit seperti cinta! Tak ku sangka Nin kau melangkah terlalu jauh, padahal aku sudah nyaman dengan pertemanan ini. Dan kau menghancurkannya hanya karena soal nafsu. Sudah pergilah aku tak ingin mengenalmu, kau membuatku kecewa, jangan temui aku lagi!” jawab Tuan dengan kasar.
            Sejak saat itu kami tak pernah bertegur sapa lagi, pernah aku mencoba untuk meminta maaf. Namun Tuan malah mengabaikan permintamaafan ku itu. Aku mulai tersadar bahwa seharusnya tak ku sampaikan perasaan ku padanya waktu itu.  Dan aku memutuskan untuk membenci secangkir kopi karena dia penyebab ini semua.
            Hari semakin malam dan aku mencoba memecahkan ingatan tentang Tuan dan memaksakan mata untuk terpejam. Pagi hari saat terbangun aku mendapati Tuan mengirimkan pesan yang berisi
“Selamat pagi, bisakah kita bertemu petang nanti? Aku menunggu mu di Alun-alun kota”
Aku tak membalasnya dan bergegas membersihkan diri untuk bersiap bekerja.
            Petangnya aku pergi ke Alun-alun, disana ku lihat Tuan telah menungguku.
“Hai!” sapa ku.
“Hai, kau sudah sampai ayo kita naik!” ajaknya.
Kami mengendarai sepeda aku diboncengnya walaupun agak aneh bagiku dengan sikapnya yg seperti ini.
“Mengapa kau mengajak ku bertemu?” tanyaku.
“Aku hanya ingin menikmati waktu berdua dengan mu, apakah kau tidak suka?” tanya Tuan.
“Tidak seperti itu, aku hanya terkejut” jawabku lirih.
            Sebenarnya aku sangat menyukai ini namun aku malu untuk mengakuinya. Tiba-tiba Tuan menghentikan kayuhannya dan turun dari sepeda
“Maaf dulu aku tidak ingin berkata seperti itu, tapi karna kau mengatakan mendadak dan aku malu mengakuinya juga jadi aku berkata sepeti itu” jelasnya.
“Apa! Kau malu? Lebih malu siapa aku atau kau?” jawab ku kesal.
“Dulu aku masih tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya! Aku ingin berkata “Aku juga menyukaimu” tapi masih terlalu dini jika aku mengungkapkan” katanya.
“Lalu sekarang apa? Kau ingin mempermainkanku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak sekarang aku serius aku ingin membuat cerita indah dengan mu! Aku ingin kita menikmati kopi di satu meja yang sama dengan damai” jawabnya sambil memegang tangan ku.
            Aku menghempaskan genggamannya dan berpaling pergi meninggalkannya. Seketika suasana hatiku seperti mendung yang membuat bumi gelap gulita,aku benci mengapa dia pengecut seperti itu. Dia mengejarku mencoba untuk menjelaskan, saat dia meraih tangan ku, aku menamparnya seraya berkata,
“Kau pengecut!”
Dia bahkan tak menyerah dia memegang pundak ku meyakinkan ku dan berkata,
“Aku akan buktikan, padamu!” tegasnya.
            Aku tetap berteguh pada pendirian ku dan meninggalkannya. Aku berlari menuju tempat parkir, kuambil motor ku dan pergi meninggalkan Alun-alun kota yang menjadi saksi bisu pengakuannya padaku. Maafkan sikap ku ini Tuan, telah menghancurkan hatimu. Aku tidak bermaksud tapi lukaku masih belum kering.
            Aku takut Tuan kau mempermainkan hatiku. Aku ingin mengetahui bagaimana perjuangan mu kali ini. Aku ingin menjawab “Tuan aku juga menyukaimu” tapi perasaan takut ini terlalu besar Tuan. Aku tidak bisa menerima seseorang yang sebelumnya pergi seenaknya tanpa berpikir bagaimana perasaan ku.
            Sesampainya di rumah aku terduduk lemas di kasur sambil mengusap air mata. Aku bimbang apakah jalan yang kuambil ini benar atau salah. Ibu membuka pintu dan menghampiriku.
“Kenapa? Ceritakan semua pada Ibu” kata Ibu.
Akupun menceritakan semuanya, Ibu menasehati ku agar aku tidak terlalu mengambil pusing masalah ini.
“Jika dia memang serius pasti akan Ia tunjukkan secepatnya, sudah jangan menangis” kata Ibu.
            Esoknya di tempat kerja Tuan datang untuk menemuiku namun aku enggan untuk bertemu dia. Jadi aku menitipkan pesan pada salah satu teman untuk disampaikan pada Tuan dan Tuan menitipkan serangkai bunga untuk ku. Maafkan aku Tuan aku belum sanggup untuk dapat berhadapan denganmu.
            Aku takut jika kita bertemu dan aku menatap matamu aku tak bisa menahan air mata yang nanti keluar. Meskipun aku sangat ingin bertemu dengan Tuan untuk meminta maaf dan menuntaskan rindu ini. Sabarlah Tuan sebentar lagi saat aku sudah siap untuk menghadapi semua aku akan mengatakannya padamu.
            Sepulang dari kerja aku kaget saat mobil Tuan terparkir di depan rumahku. Saat aku masuk ternyata Tuan telah disambut oleh Ibu dan Ayah.
“Assalamualaikum” sapa ku.
“Waalaikumsalam” jawab mereka bertiga serempak.
“Nindi, dia telah menunggu mu sejak tadi” kata Ibu.
“Ayo kita berbicara di luar” ajak ku ketus.
Tuan berjalan mengikutiku ke luar rumah
“Apa kau bisa ikut dengan ku?” Tanya Tuan.
“Kemana? Cukup disini saja” jawab ku ketus.
            Tuan menggandeng tangan ku dan memasukkan aku ke dalam mobilnya,
“Kenapa? Lepas tanganku” pintaku padanya.
Namun Tuan tak mempedulikan aku dia masuk dan menyetir mobil. Di dalam mobil Tuan berkata bahwa dia telah berbicara pada orang tua ku,
“Aku telah meminta izin pada orang tua mu dan mereka menyetujuinya, tinggal kau setuju atau tidak?” tanyanya.
“Apa kau serius?  Mengapa mendadak?” tanyaku balik.
“Kau bilang kau ingin bukti jadi aku buktikan. Bagaimana kau setuju, jika ya minggu depan aku akan membawa orang tua ku untuk kerumah mu” jelasnya.
            Aku hanya diam tak berani menjawab dan setelah kami berputar mengelilingi kompleks, Tuan membawa ku pulang kerumah. Seturunnya dari mobil
“Maaf tapi aku tak dapat memberi jawaban sekarang, mungkin besok baru aku beri jawabannya” kataku dan segera meninggalkannya.
            Saat memasuki rumah kulihat Ayah dan Ibu seperti menungguku di ruang tamu.
“Bagaimana nak? Kau menolaknya atau menerimanya? Ibu mu telah menceritakan semua” tanya Ayah padaku.
“Aku belum menjawabnya Yah, aku masih bimbang harus menjawab apa!” jawabku lirih.
“Jangan hanya menuruti egomu, Ayah dan Ibu mendukung apapun pilihan mu” kata Ayah.
            Setelah berbicara pada Ayah dan Ibu aku masuk ke kamar dan menelfon Tuan,
“Iya ada apa Nin?” tanya Tuan.
“Bisa kita bicara besok? Aku tunggu di taman” jawabku.
“Iya aku akan datang” jawabnya.
Setelah mematikan telfon aku mulai mencerna satu persatu semua masalah dengan baik. Aku pertimbangkan dengan baik, agar tak salah mengambil keputusan hingga aku terlelap tidur.
            Esoknya aku meminta izin pada bos ku jika aku tak dapat masuk kerja. Saat di taman
“maaf aku telat” kataku sambil merapikan rambut.
“iya tak apa, jadi kau ingin berkata apa?” tanyanya.
“aku setuju dengan semua” jawabku.
“Benarkah? Aku tidak salah dengar bukan?” tanyanya kegirangan
“Iya, sebenarnya saat kita pertama bertemu aku sudah berharap banyak terhadapmu, tapi aku juga takut jika ini hanya permainanmu. Kau tau Tuan aku sangat sedih saat berpisah denganmu, aku telah memutuskan untuk menutup hati dan tetap pada pilihan ku yaitu kamu. Aku masih tak menyangka jika kau mau bersanding dengan ku. Maafkan saat aku menampar mu waktu itu, pikiranku saat itu sedang bentrok untuk dapat mempercayaimu atau tidak” jawabku.
“Sudah lupakan semua mari kita buat cerita baru dengan lebih indah” kata Tuan sambil mengusap kepala ku.
“Aduh gimana ya ngomongnya, maukah kamu saudari Nindi saat bangun tidur melihat saya. Makan pagi eh ada saya lagi, pulang kantor loh kok saya lagi. Sholat berjamaah imamnya saya. Kalau flu yang membuat bubur saya. Bagi tugas mengganti popok bayi dengan saya. Diskusi mengenai sekolah anak dengan saya. Mencabut uban dengan saya, buatin saya kopi tiap pagi. Yah semacam saya lagi, saya lagi setiap hari. Kau siap Nin?” sambungnya sambil mencubit hidungku.
            Setelah beberapa hari akhirnya ini adalah hari saat dimana Tuan membawa orang tuanya kerumah ku atau sering disebut lamaran. Dengan memakai kebaya berwarna putih dan tatanan rambut seperti putri keraton, aku duduk menunggu kedatangan Tuan.
Gelisah, senang, dan malu yang sekarang aku rasakan. Sampai-sampai Ibu menanyai aku karena gerak-gerik ku yang seperti salah tingkah ini.
“Kenapa nak?” tanya Ibu.
“Tidak Bu aku hanya deg-degan saja” jawabku.
“Kau ini, bagaimana jika pernikahan nanti?” tanya ibu mengejek ku.
“Ibu..” jawabku sambil memeluknya.
“Mobil rombongan pria sudah datang” kata sepupu ku.
            Mereka pun masuk ke dalam rumah disambut dengan gembira oleh keluarga ku. Setelah bercakap-cakap cukup lama akhirnya inilah penyerahan cincin dari calon pria untuk calon wanita. Aku keluar dari kamar dan langsung duduk di tempat yang telah disiapkan. Lalu Tuan menghampiriku dengan wajah yang mempesona ditambah senyum manis nan legitnya.
            Tuan memberiku cincin dan semua orang di ruangan tersebut  bertepuk tangan. Inilah saat dimana penentuan hari dan tanggal kami untuk menikah. Akhirnya diputuskan kami akan menikah empat bulan lagi tepatnya hari Senin tanggal 29.
            Lega rasanya mendengar keputusan itu. Aku tidak sabar untuk bisa membuat segelas kopi panas untuk mu dipagi hari kelak Tuan. Aku sangat menunggu saat dimana kami berdua terjaga karena tangisan bayi di tengah malam. Apakah ini yang dinamakan jodoh dulu kami terpisah lama hanya karena masalah sepele.
Dan telah kuputuskan aku tak membenci kopi lagi, bahkan aku sangat ingin meminumnya setiap saat. Sekarang dengan kedatangan Tuan ke rumah ku dan membawa cincin yang telah melingkar di jari manis ku, aku percaya bahwa sejauh apapun seseorang meninggalkanmu namun jika takdirmu adalah orang tersebut maka dengan rintangan apapun kalian akan dipertemukan kembali dengan cara yang sederhana ataupun luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar